Searching...

Popular Posts

Monday, 31 August 2015

Gitarku.. Ceritaku... Chapter 67

05:23

Gw masih memegang kertas surat balasan dari label, via di sebelah gw juga ikut tegang, pelan2 gw dan via mulai menatap kertas surat tadi.. gw liat kertas tadi dari atas.. tengah.. bawah..
gw dan via saling berpandangan..
gw liat mata via memancarkan perasaan yg aneh..

"kosong?" kata via


"iya nih kosong" kata gw sambil gw bolak balik kertas yg ga ada tulisan tadi.
Lalu gw lihat lagi kedalam amplop dan ternyata ada secarik kertas di dalamnya, lalu gw ambil dan gw buka

"bismilah allahuma ahya wabismika amud" kata gw doa

Via ngeliat aneh ke arah gw..

Lalu pelan2 gw buka kertas tadi.. gw baca pelan2 isinya.. dari atas.. tengah.. bawah..
dan..
gw dan via kembali saling berpandangan..
gw liat mata via berkaca-kaca..
Gw peluk dia erat.. dan via terdengar menangis di pelukan gw..

"kita berhasil via" bisik gw


Via tetep menangis.. airmatanya sudah membanjiri baju gw, air mata kebahagiaan..
akhirnya demo kami sudah berhasil memenuhi kriteria label.. dan kami di panggil untuk menghadap pihak label besok..
gw ga bisa ceritakan lagi perasaan kami saat itu.. yg jelas kami bahagia.. penantian kami selama ini membuahkan hasil..
Kami habiskan malam itu dengan canda tawa.. rasa lelah di tubuh kami seakan hilang, smangat kami kembali berkobar..

Kamipun tertidur..


Pagi sekitar jam 6 gw udah bangun, gw lihat via malah sudah mandi..

"semangat banget lo" kata gw.

"iya donk, ayo cepetan mandi, habis itu kita makan dan berangkat ke label" kata via..

Gw nurut, gw mandi dan ganti baju, lalu kami sarapan di warung depan kontrakan dan jalan ke mesin atk untuk mengambil sisa uang via yg tinggal 200rb..

"kita naik apa via?" tanya gw..

"pegen naik metromini sih tapi kok gw takut ya" kata via.

"takut kenapa? Kan bareng gw" kata gw.

"ok lah yuk berangkat" kata via

Kami naik angkutan menuju alamat yg kami tuju, kami tidak kebagian tempat duduk dan kami berdiri berhimpit-himpitan dengan penumpang lain..

"via, ati2 tas lo ya" bisik gw karena gw liat orang di belakang via terlihat mencurigakan.

"Iya gw tau" jawab via pendek

Gw diem sambil sesekali melihat ke arah orang yg di belakang via.. tapi alhamdulilah kami sampe di tujuan dengan aman

"uang lo utuh kan" tanya gw begitu kita turun

"iya utuh" kata via.

Kita masuk dan duduk di ruang tunggu, kita janji ketemu pihak label jam 9 pagi, dan saat itu masih sekitar jam 8.45 pagi..

"gw grogi nih" kata gw.

"sama" kata via.

"kira2 tar kita di tanyain apa aja ya" kata gw.

"ya ga tau hehe" kata via pendek.

Kami diem.. pikiran kami di penuhi tanda tanya besar..

"maaf silahkan ikut saya.. sudah di tunggu sama pak hendri" kata ibu2 yg duduk di belakang meja.

Kami jalan mengikuti ibu2 tadi dan kami masuk ke sebuah ruangan yg lumayan besar, di sana sudah ada laki2 berkacamata sedang duduk 

"ini mereka sudah datang pak" kata ibu2 tadi dan meninggalkan kami di situ.

"ok mari silahkan duduk" kata bapak tadi.

"saya via pak, dan sini leo" sapa via dan kami pun salaman.

"ok jadi saya sudah mendengarkan demo kalian, demo ke 5 ya kalau ga salah?" kata pak hendri

"demo kami yg ke 12 pak" jawab via

"oh sorry iya maksud saya demo yg ke 12 kalian, dan saya sudah mengevaluasi juga meminta pendapat dari teman2 di label ini, jadi kami memutuskan untuk memproduseri kalian" kata pak hendri.

"format kalian unik, masih belum ada duo gitar, dan juga genre kalian lumayan unik" kata pak hendri lagi.

"kita akan segera memproses album kalian, dan juga segera mempromosikan kalian, jadi gimana kalian siap?" kata pak hendri.

"iya kami siap pak" jawab gw.

"ok kalau begitu ini MOU tolong di pelajari dulu" kata pak hendri sambil menyerahkan kertas bertumpuk tebal ke hadapan gw dan via.

Via langsung membaca isi perjanjian tersebut, di situ di jelaskan secara rinci mengenai hak dan kewajiban ke 2 belah pihak, juga sistem pembagian royalti..
Dan juga ada penjelasan mengenai biaya produksi, promo, dll
Dan mata gw tertuju di tulisan ' uang jaminan 800juta '

"maaf pak maksud dari yg ini gimana ya?" tanya via ke pak hendri.

Beliau langsung melihat tulisan yg di tunjuk via

"oh itu uang jaminan dari kalian, jaminan bahwa kalian tidak akan curang atau mengingkari perjanjian ini, sekaligus itu uang jaminan untuk kami jika ternyata album kalian tidak laku" jawab pek hendri.

"jadi maksudnya pak?" tanya gw.

"gini, bener semua biaya mulai produksi dan promo itu dari kami, tapi misal ternyata albim kalian tidak laku dan tidak bisa menutupi biaya yg kita keluarkan, maka uang jaminan kalian yg akan kami jadikan untuk menutupi kekurangan tadi, misal kurang 300 juta, ya kita potong 300 juta, sesangkan kalau kaliang mengingkari perjanjian atau kontrak kami, maka kami ambil semua uang jaminan kalian" kata pak hendri.

"intinya harus ada 800juta pak" tanya via.

"betul itu" kata pak hendri.

Gw lemes denger penjelasan pak hendri..

"misalkan kita memang ya bisa menyediakan uang sejumlah itu, apa tidak ada cara lain pak?" tanya via.

"sorry tapi itu syarat mutlak kami, saya tau industri musik kita seperti apa, materi kalian boleh lah saya katakan bisa di jual, tapi kalian pendatang baru, kalian belum di kenal orang, otomatis promo kalian harus besar2an, dan asal kalian tau aja, untuk promo di tv swasta durasi 1 menit itu butuh biaya sekitar 1 jutaan, 1 menit 1 juta.. dan misalkan salam 1 hari kita promo 10 menit, sudah berapa uang yg kita keluarkan dalam 1 bulan? " kata pak hendri lagi.

Gw cuma diem ga bersemangat denger pak hendri ngomong.. 800 juta..

"yaudah pak, kami bawa kopian MOU ini untuk kami pelajari dulu, 3 hari lagi saya kesini pak" pamit via dan kami pun keluar..

Di sepanjang perjalanan pulang, kami ga banyak bicara.. entah gw mikir apa dan via mikir apa.. yg jelas tau2 kita udah sampe di kontrakan, kami masuk dan gw langsung rebahan di kasur, sementara via membaca MOU tadi..

Memang tahun2 itu boleh di katakan sebagai tahun yg nanggung banget, kenapa bisa gw bilang nanggung, karena saat itu belum ada program acara musik pagi hari yg isinya joget kucek2 jemur2 kayak sekarang, walau boleh di bilang ga bermutu, tapi acara2 seperti itu sangat membantu band2 baru untuk promo, mereka ngundang band baru dengan pertimbangan bayaran masih murah, dan band baru di untungkan dengan bisa tampil di acara itu sekalian promo buat mereka.. tapi di tahun2 2005 an, bener2 sulit untuk bisa promo kalau modal kita cekak.. 

"trus rencana lo gimana" tanya gw

"800 juta banyak banget leo, kalaupun gw ngeyel minta sama keluarga, kayaknya ga bakalan bisa dapet segitu" kata via.

Gw liat nada bicara via seperti orang yg menahan nangis.. lalu gw deketi dan gw duduk di samping via

"lo tau sheila on 7 kan via? Mereka bisa produksi dan terkenal tanpa mereka mengeluarkan biaya yg besar seperti kita, itu tandanya mereka beruntung dan mendapat mukzizat, itu artinya kita masih ada peluang untuk bisa seberuntung mereka, tinggal kita cari aja resep2 yg bisa membuat mereka beruntung " kata gw berusaha menghibur.

"gw tau leo.. tapi apa mungkin akan lahir kembali anak ajaib seperti sheila" kata via.

"gw ga tau mungkin atau enggaknya, semua terserah yg di atas via" kata gw sambil gw peluk via.

Via mulai menangis, gw tau banget perasaan dia seperti apa, karena gw juga ngerasain hal yg sama.. gw ga berusaha untuk menenangkan via, gw biarkan via menangis sampe lega, gw biarkan dia melepaskan semua kesedihan yg dia rasakan..

"gw putus asa leo" bisik via di tengah2 tangisan dia.

Gw ga jawab, gw cuma diem dan gw peluk via lebih erat..

"gw ga tau lagi harus gimana, kemarin walau demo kita di tolak, gw masih ada harapan karena gw yakin kita bisa membuat karya sesuai permintaan mereka, tapi sekarang gw ga punya harapan apa apa lagi" kata via sambil tetep nangis..

Gw lepas pelukan gw, gw pandang wajah via yg saat itu di penuhi air mata, gw usap air mata dia..
tapi..
Saat tangan gw menyentuh pipi via, gw rasakan suhu badan via sangat2 tinggi..
gw langsung pegang dahi dia dan..

"masya allah badan kamu kok panas banget via??" tanya gw.

Via ga jawab tapi masih menangis..
gw ajak via pindah ke kasur dan gw suruh dia tiduran di sana

"via sebentar gw ambilin kompres" kata gw sambil jalan ke lemari dan ambil kaos lalu membasahi dengan air 

Gw kompres badan via.. gw rasakan suhu tubuh via sangat tinggi

"via tunggu sebentar gw ke apotik beli parasetamol, lo tidur aja dulu" kata gw sambil lalu keluar membeli obat..
Di jalan menuju apotik gw buka dompet via dan gw hitung masih ada uang sekitar 190rb.. gw masuk ke apotik dan gw beli parasetamol
Setelah itu gw jalan kembali menuju kontrakan.
Dan begitu gw masuk, gw lihat via sudah tidur..perasaan gw sedikit lega ngeliat via udah bisa tidur, gw benerin kompresan di badan via dan gw tiduran di deket via..

Sekitar jam 4 sore gw kebangun, gw duduk dan gw tempelin tangan gw ke badan via..
Gw rasakan suhu badan via semakin tinggi, gw bingung dan gw berusaha bangunin via untuk segera minum obat turun panas..

"via bangun bentar gih" kata gw sambil gw goyangin tubuh dia pelan2.

"via bangun" kata gw lagi.

"via?? Bangun donk bentar aja" kata gw sambil menggoyangkan tubuh via lu ayan kenceng.

Gw liat via ga ngerespon..

"Masya Allah via jangan gini donk " kata gw mulai kalut, gw takut bgt saat itu.

"via!!" kata gw kenceng tapi via tetep diem.

Gw langsung lari keluar rumah, gw stop taksi dan gw gendong tubuh via kedalam taksi

"pak kerumah sakit pak" kata gw ke sopir taksi.

Di jalan gw masih berusaha bangunin via. Tapi tubuh via seakan ga bisa merasakan apa2..
gw panik.. mata gw mulai terasa panas, gw takut via kenapa2..
dan setibanya di rumah sakit, gw langsung gendong via menuju ruang gawat darurat, gw berjalan secepat mungkin.. dan gw liat sopir taksi juga berjalan secepat mungkin ikut belakang gw..

"dok tolong temen saya ini dok, saya ga tau dia kenapa" kata gw sambil gw taruh tubuh via di ranjang dorong rumah sakit.

"baik pak silahkan tunggu di ruang tunggu ya pak" kata dokter tadi.

Gw duduk lemes di kursi, mata gw menahan tangis.. gw ga tega ngelihat via seperti itu.. gw lihat sopir taksi tadi juga duduk di sebelah gw, terlihat raut sedih di wajah dia seakan turut berduka atas kejadian yg gw alami dan tangan dia merangkul pundak gw

"mas maaf 60 ribu mas" kata sopir tadi.

Mata gw semakin berkaca2 nahan sedih karena gw inget belum bayar ongkos taksi

"ini pak makasih" jawab gw sambil ngasih 60 ribu dan dia pergi.

Gw masih duduk cemas nunggu berita dari dokter..
dan ga lama kemudian ada orang memanggil gw

"maaf bapak keluarga pasien tadi ya?" tanya orang yg ternyata dokter.

"iya pak saya temen dia, ehm maksud saya suami temen dia, ehm temen suami dia, ehm pokok itulah, saya suaminya pak" jawab gw.

"jadi gini, istri bapak terkena infeksi di saluran pernafasan, dan harus rawat inap karena kami masih meu memeriksa lebih lanjut tentang penyakit yg di derita istri bapak" kata dokter tadi.

"oh iya pak ga masalah di rawat inap saja pak" jawab gw.

"ya sudah silahkan bapak ke ruang administrasi dan melakukan pendaftaran di sana" kata dokter.

Gw nurut dan masuk ruang administrasi, dan selesai mendaftar, gw diajak perawat untuk ikut memindahkan via dari ruang IGD menuju kamar rawat inap..

Gw liat via yg kini tangan nya di infus masih tertidur,gw pegang dahi dia masih panas banget..
perawat mulai mendorong via menuju kamar, dan akhirnya via di pindahkan ke kamar..
Gw duduk di samping via.. gw liat wajah via masih terlihat sembab, gw masih bisa merasakan kesedihan dia.. 


Gw duduk sambil tangan gw memegang tangan via
Kepala gw terasa berat
dan diam diam gw juga mulai merasakan putus asa.. harapan kami sudah hancur saat itu..
keindahan yg ternyata palsu itu udah berhasil membuat gw dan via terlena, membawa kami semakin jauh dan jauh melangkah..

Gw lihat uang di dompet via sudah tinggal 130 ribu.. 
kepala gw tambah kerasa berat.. pikiran gw semakin banyak tertimpa beban..
gw harus dapat duit dari mana untuk membayar biaya rumah sakit..
apa gw harus telpon keluarga via..
tapi bw ga berani menghubungi keluarga via, mereka akan tahu kalo gw dan via tinggal bersama..
ya Allah gw harus gimana.. di kota yg amat megah ini gw sendirian. 

Gw diem dan berusaha bisa berfikir jernih..
setelah gw pertimbangakan berulang kali, akhirnya gw ambil hp gw dan gw telpon..

"iya halo" kata suara sana 

"halo ini gw leo, gw dalam masalah, gw butuh uang banyak malam ini, sorry gw terpaksa telpon lo, gw ga tau mau minta tolong siapa lagi" kata gw.

"yeee ga usah sory2 kali, butuh berapa emangnya? Trus lo sekarang kenapa?" tanya suara disana.

"temen gw sakit lid, sekarang di rumah sakit, gw ga tau dia sakit apa, dan gw sekarang ga pegang uang" gw jelasin masalah gw ke lidya.. yap lidya..

"sabar jangan panik gitu, yaudah gw matiin dulu telponya ya, gw ke atm sekarang" kata lidya dan mematikan telpon.

Gw diem.. gw ga tau harus minta tolong siapa lagi saat ini, yg jelas gw ga mau via sampe kenpa2., gw takut ngeliat via sakit..

Gw pegang tangan via, sementara wajah dia masih tertidur menyisakan kesesihan yg mendalam.. gw serasa pengen gantiin posisi dia.. posisi gadis manis yg penuh impian.. dan pikiran gw melayang jauh.. mengingat semua kenangan gw dan via.. kenangan indah kami saat sekolah.. candaan2 kami ketika kami berangkat masuk sekolah bersama, sosok dia yg selalu nunggu gw di gerbang sekolah..
perlahan2 air mata gw menetes.. terasa hangat melewati pipi gw..

Setelah beberapa lama kemudian ada sms masuk dan gw baca

'udah gw transfer sayang,di pake aja dulu' sms yg ternyata dari lidya.

Gw yg saat itu sudah menggunakan fitur sms banking langsung cek saldo gw, dan ga beberapa lama kemudian ada sms balasan lalu gw buka dan baca.?

"Masya Allah" teriak gw kaget dan langsung gw telpon lidya..

Tuut..tuut..

Tuut..tuut..


Bersambung..

Sumber

0 komentar:

Post a Comment