Searching...

Popular Posts

Saturday, 19 September 2015

Antara Aku, Kau dan Sabun Part 43

00:57

Setelah kepergian Kanza hari-hari yang gua lalui di sekolah hanya dihabiskan dengan menyendiri, gua yang usil dan engga bisa diam berubah jadi sosok pendiam. Kadang teman-teman di kelas coba membuat lelucon agar gua engga terlihat sedih tapi itu engga ada gunanya, karena gua tetap sibuk dengan lamunan. Kadang teman-teman yang gagal membuat gua tertawa jadi ikut diam dan menatap gua dengan penuh harap agar gua engga terus menerus larut dalam kesedihan, tapi gua coba tersenyum ke arah mereka untuk menutupi apa yang gua rasakan. Walau pun gua sendiri engga tahu apa arti senyuman itu, karena jelas sangat bertolak belakang dengan apa yang gua rasakan.




Setelah bell pulang gua berjalan naik ke lantai 3, masih di tempat yang sama, diwaktu yang sama namun dengan suasana yang sangat berbeda. 

Gua hanya diam sambil menyandarkan badan di bangku tempat biasa menghabiskan waktu dengan Kanza, kadang gua seperti masih melihat dia ada di sini, gua masih bisa melihat jelas senyumannya, senyuman yang selalu gua rindukan setiap harinya. Suaranya memanggil nama gua dengan berteriak seperti terngiang di telinga setiap kali memikirkannya. 

Setelah beberapa menit larut dalam lamunan beberapa orang pekerja yang sedang membangun lantai 4 sekolah turun untuk istirahat, diam-diam gua naik ke atas dan duduk di ujung beton sambil mengayun-ngayunkan kaki.

Dari atas sini terlihat beberapa siswa yang sedang asik ngobrol-ngobrol di bawah pohon rindang yang berada dekat lapangan upacara. Lalu satu persatu dari mereka mulai pergi sampai sekolah terlihat begitu lengang hanya tinggal beberapa orang siswa yang sedang berjalan menuju gerbang untuk pulang.

“Za… boleh gak aku nyusul kamu ? aku pengen lompat” gua mulai bicara sendiri

"................"

"Engga boleh ya ? "

“…………..”

“Za… Gimana kabarmu di sana ?”


“…………”

"Kamu pasti baik-baik aja ya di sana, aku kesepain Za"

".............."

“Za.. aku kangen, kamu kangen gak ?”

“………..”

“Za... jawab dong” gua terus bicara sendiri sambil menatap awan di atas sana yang sedang berjalan tertiup angin

BEGO” 

“………..” Gua langsung diam saat mendengar suara yang engga asing yang terdengar dari lantai 3 di bawah gua

“Ngomong sendiri kaya orang gila” Lanjutnya

“………..” 

Tanpa meladeni ucapannya gua berdiri dan turun ke lantai 3, dari kejauhan terlihat Dian yang sedang menatap gua yang sedang berjalan ke arahnya. Lalu gua menoyor kepalanya Lo gak ngerti kata gua sambil berdiri menatapnya.

“kaka yang engga ngerti” Protes dia sambil merapihkan poninya

“Lo gak tau gimana rasanya”

“aku emang gak pernah pacaran jadi aku gak tau gimana rasanya di tinggalin pacar, tapi aku tau gimana rasanya kehilangan orang yang aku sayang”

“Anak kecil tau apa sih”
“Aku udah gede kakaaaaa”

DRET DRET DRET DRET….
Hp gua bergetar ada panggilan masuk dari Warnet

Gua  “Hallo”

Vina  “Mas, bisa ke warnet sekarang !”

Gua  “Ada apaan ? kok kayanya panik bener”

Vina  “Mas sini aja, saya juga gak tau ini kenapa”

Gua  “Iya saya ke sana”

Tut tut tut.... gua tutup telpon sepihak


“Mau ke mana Ka ?” Tanya Dian saat gua berjalan meninggalkannya

“Ada urusan” gua jawab tanpa menolehnya

Baru turun ke lantai 2 ada Piccolo yang baru keluar dari perpus manggil gua, lalu gua berhenti dan melihat dia berjalan mendekat.

“…………..” Gua hanya diam sambil menatapnya seolah isyarat “ada apa?”

“Sebelumnya, saya mau minta maaf soal kejadian tempo hari, saya kebawa emosi jadi main pukul kamu”

"…………..”

“Saya turut berduka, saya-“
“Udah pak” belum selesai Piccolo bicara gua memotong “Saya udah maafin bapak, saya juga minta maaf udah gak sopan”

“Yang salah Bapak bukan kamu, Kalo bapak di posisi kamu mungkin bapak juga bakalan ngelakuin hal yang sama, kamu sing sabar ya, Allah engga pernah tidur”


“Iya Pak  saya pulang dulu ya lagi ditungguin”

“Iya hati-hati”

Lalu gua lanjut berjalan turun ke parkiran untuk ngambil motor, sepanjang jalan perasaan gua campur aduk, apa maksud “Allah engga pernah tidur ?” gua terus memikirkan perkataan Piccolo sampai gua berhenti di parkiran Warnet yang kosong pedahal biasanya penuh motor pelanggan. Lalu gua turun dari motor dan berjalan masuk ke dalam.

“Kok sepi ?” Tanya gua ke Vina yang lagi sendirian duduk di server

“Tadi koneksi gangguan pak”

“Terus sekarang udah normal ?”

“Udah pak tapi”

“Tapi apa ?”

“Komputernya gak bisa nyala”
“Maksudnya gak bisa nyala gimana ? Arez kemana emang ?”

“Arez meriang pak, jadi dia gak bisa masuk, udah saya coba nyalain semua tapi monitornya tetep gak ada tampilan”

“Masa sih  ” 

Gua coba berjalan dan menekan satu persatu tombol power computer, lalu gua berjalan dan melihat semua computer yang nyala namun engga ada respon dari monitor. Gua coba periksa listrik tapi semua engga ada masalah, lalu gua coba buka casing computer untuk memastikan apa ada yang konslet atau RAM yang bermasalah.

“Wah kipasnya copot Vin” Kata gua saat melihat fanprossesor yang menggantung dengan kabel yang masih menempel di motherboard,MAS PROSSESORNYA KOSONGkata Vina yang berdiri di samping gua terkejut sambil menunjuk tempat prossesor yang kosong

“Ya Allah.. ini mah kita kebobolan” gua lanjut buka semua casing computer dan mendapati RAM dan Prossesor yang udah engga ada di tempatnya.

“Coba liat CCTV Vin”

“Kan lagi rusak pak”
“Tadi kamu ninggalin warnet kosong engga ?”

“Td waktu gangguan kan saya balikin kembalian yang pada maen paket tapi kertas abis waktu ada yang print, jadi berhubung saya kenal beberapa orang yang masih di net jadi saya keluar bentar beli kertas soalnya stok abis. Tapi waktu saya balik lagi tinggal ada Emba-emba yang print sama cowonya yang nungguin saya beli kertas, terus dia lanjut print makalah gitu. Nah pas lagi ngeprint ada cowo rada gondrong masuk, kayanya dia temen dua orang ini. Trus dia keluar lagi bawa tas si cowo yang masih duduk di PC nomor 17, abis prinan beres mereka berdua juga ninggalin warnet mas. Saya bebersih sambil nunggu koneksi normal, trus waktu udah normal anak-anak yang pada di luar nungguin koneksi normal saya panggil. Tapi mereka bilang komputernya engga pada bisa nyala, saya coba cabut kabel powernya trus pasang lagi tapi emang nyala cuma gak ada tampilan di monitornya, saya coba nyalain semua komputer tapi semuanya sama aja. trus saya telpon Mas”

Mata Vina berkaca-kaca setelah menceritakan kronologi kejadian, gua coba menenangkannya sambil menyeka air matanya yang mulai membasahi wajah cantik seorang mahasiswa semester 2 yang umurnya Cuma 1 tahun lebih muda dari gua.



“Ini bukan salah kamu, ini musibah, mungkin kita kurang bersedekah atau mungkin emang waktunya sial aja” 

“Tadi waktu saya rapihin keyboard sama mouse gak tau kalo computer abis dibobol, baud nya aja masih pada nempel”

“Mereka udah ahli, saya pernah denger di Bekasi banyak warnet yang kasusnya sama kaya gini, eh udah nyampe sini aja”
“Terus gimana dong mas ?”

“Kamu jangan bilang siapa-siapa ya, kalo ada yang mau maen bilang aja lagi perbaikan, Arez, Andi, Kiki entar saya kasih tau juga”

“Trus sekarang gimana ?”

“Yah mau gimana lagi, mendingan kamu buatin saya kopi gih”

“iya mas”

Lalu Vina berjalan naik kelantai 2, gua duduk di bangku server dan memutar lagu yang pertama kali gua dan Kanza dengar saat Warnet ini baru dibangun. Setelah kepergian Kanza hanya lagu ini yang selalu gua putar, lagu ini seolah memberikan ketenangan tersendiri




I'm telling you
I softly whisper
Tonight tonight
You are my angel

Aishiteru yo
Futari wa hitotsu ni
Tonight tonight
I just say…

Wherever you are, I'll always make you smile
Wherever you are, I'm always by your side
Whatever you say, kimi wo omou kimochi
I promise you "forever" right now

I don't need a reason
I just want you baby
Alright alright
Day after day

Kono saki nagai koto zutto
Douka konna boku to zutto
Shinu made stay with me
We carry on…

Wherever you are, I'll always make you smile
Wherever you are, I'm always by your side
Whatever you say, kimi wo omou kimochi
I promise you "forever" right now

Wherever you are, I'll never make you cry
Wherever you are, I'll never say goodbye
Whatever you say, kimi wo omou kimochi
I promise you "forever" right now

Bokura ga deatta hi wa futari ni totte ichiban me no kinen no subeki hi da ne
Soshite kyou to iu hi wa futari ni totte niban me no kinen no subeki hi da ne

Kokoro kara aiseru hito
Kokoro kara itoshii hito
Kono boku no ai no mannaka ni wa itsumo kimi ga iru kara

Wherever you are, I'll always make you smile
Wherever you are, I'm always by your side
Whatever you say, kimi wo omou kimochi
I promise you "forever" right now


Sayup-sayup lirik lagu ini membuat kenangan tentang kita seolah diputar kembali.

“Za…. Aku harus gimana ?”
Tanpa sadar gua mengajukan pertanyaan, belum hilang kesedihan di tinggal Kanza sekarang gua harus mengalami masalah lain. Warnet ini adalah usaha yang gua rencanakan untuk mencari uang yang akan gua gunakan untuk melamar Kanza, apa karena Kanza yang pergi jadi usaha ini Bangkrut. Engga-engga, gua jangan mikir yang aneh-aneh, semua ini cobaan. Iya gua yakin semua ini cobaan. Allah engga mungkin ngasih cobaan di luar batas kemampuan hambanya, gua yakin gua bisa lewatin masa-masa sulit ini.

Tapi uang dari mana buat beli 35 Unit Prossesor AMD Phenom™ dan 4 GB Ram yang ilang, sedangkan uang modal pembuatan warnet aja baru kembali 80%. Apa yang harus gua lakukan ? aaarrrghhh pikiran gua makin gak karuan, 

Za… kalo kamu ada di sini pasti kamu bisa langsung nenangin aku, Za.. please hug me now 

Bersambung..

0 komentar:

Post a Comment