Searching...

Popular Posts

Saturday, 19 September 2015

Antara Aku, Kau dan Sabun Part 42

00:46

Gua melaju dengan kecepatan penuh ke rumah sakit yang bi Romlah beri tahu lewat SMS, kenapa Kanza bisa masuk Rumah sakit ? apa dia sakit ? tapi kemarin dia engga ngeluh sakit atau ada tanda-tanda sakit. Begitu banyak pertanyaan-pertanyaan yang melintas di otak sampai beberapa kali gua hampir menabrak kendaraan karena engga konsentrasi bawa motor. Setelah memarkirkan motor gua langsung lari dengan tergesa-gesa menuju tempat di mana Bi Romlah menunggu.

Huh Hahhh Huuh Hahh.. napas gua terengah-engah, Bi Romlah langsung berdiri dari tempat duduk yang ada di dekat pintu masuk saat melihat gua datang.

“Kanza di mana Bi”

“………….” Dia hanya diam sambil sesenggukan, lalu dia berjalan membuka pintu

CKREK 
beberapa suster yang sedang bertugas menoleh ke arah kami yang baru masuk, Bi Romlah berjalan dengan gua yang mengikutinya dibelakang menuju sebuah ranjang yang berada di pojok ruangan.

Gua engga melihat senyuman manis yang biasa dia lontarkan, Kanza hanya diam tanpa memanggil nama gua seperti setiap kali kita bertemu. Rasanya begitu sakit melihatnya, dada ini terasa begitu sesak saat Bi Romlah membuka Kain putih yang menutupi bagian wajah Kanza. Air mata tak dapat terbendung lagi saat melihat wajahnya yang pucat dengan luka-luka di dekat mata.

“Z ZA…” gua coba memanggilnya 

“Mas Bob, neng Kanza udah engga ada”
“…………” 

Mendengar Bi Romalah bicara seperti itu gua sedikit memutar badan dan menatap Bi Romlah seolah engga percaya dengan apa yang dia ucapkan, ini pasti bohongkan ? jawab ini pasti BOHONG teriak gua dalam hati.


“Tadi pagi…. Tadi pagi neng Kanza bangun kesiangan terus dia bawa motor takut telat kalo naik angkot, pedahal biasanya neng Kanza paling gak mau bawa motor ke sekolah. Kata tukang dagang yang jualan di deket SD dia bilang ada anak SD yang nyebrang sembarangan, anak SD itu ampir ketabrak motor yang lagi ngebut tapi yang bawa motor ngebuang ke kanan, dari arah berlawanan ada neng Kanza lagi ngebut jadi motor mereka adu domba, neng Kanza mental dari motor trus kepalanya duluan yang ngebentur jalan. Warga yang ada disekitar sekolah SD langsung lariin neng Kanza sama orang itu ke sini” Kata Bi Romlah menjelaskan

“Terus yang nabraknya gimana Bi ? ORANGNYA MANA ?” Tanya gua sambil menggoyang-goyang bahu Bi Romlah

“Yang nabraknya udah dibawa pulang duluan Mas, dia meninggal waktu dalam perjalanan ke rumah sakit” Setelah mendengarkan penjelasan gua lepas bahu Bi Romlah dan kembali menatap wajah Kanza. 

“ZA….”

“………”

“Za… bangun, za…”

“……….”

“Za… jangan tinggalin gua Za”


“……….”

“Za… Kanza…. Kanza…” ditengah isak tangis gua terus memanggil Kanza dengan suara semakin pelan sampai gua sendiri engga bisa mendengarnya.

Gua gak tau harus berbuat apa, Gua hanya bisa nangis. Semua kenangan bersama Kanza seperti diputar secara bersamaan. 

BOBIII suara dia memanggil gua masih terngiang ditelinga, rasanya seperti mendengar dia memanggil nama gua

Saat kita pertama kali bertemu, saat kita menghabiskan waktu bersama, dan saat kita menentukan halaman akhir kisah yang kita buat. Tapi kenyataannya rencana yang kita rangkai engga sama dengan rencana yang telah Tuhan siapkan untuk kita.


Mata gua terbelalak saat sebuah tangan memegang bahu sebelah kanan, gua sedikit memutar badan dan menolehnya “Kamu Bobi ?” Tanya seorang bapak-bapak yang menggunakan jas hitam sambil menggendong anak kecil bersama seorang peremuan yang menutup mulutnya sambil menangis.

“……..” gua hanya manggut-manggut, entah kapan mereka datang sepertinya lamunan tadi membuat gua engga menyadari kedatangannya. Dari wajahnya Bapak-bapak ini sedikit mirip dengan Kanza tapi ibu-ibu disampingnya dia terlihat orang sunda asli, sepertinya ini nyokap tiri dan adiknya.

“tolong ikhlasin kepergian Kanza” Kata bokapnya dengan suara bergetar dan mata yang berkaca-kaca

“I. iya.. om” gua jawab dengan terbata-bata sambil masih sesenggukan

Engga lama kemudian bokapnya meninggalkan kami, sedangkan nyokapnya berdiri disamping gua sambil menggendong anaknya.

“Mah mah, kaka tidur ya ?” Tanya anak kecil itu sambil menunjuk-nunjuk Kanza

“Iya, kaka lagi tidur” Jawab Nyokapnya

“Kok mamah nangis ?” Tanya adiknya sambil mengusap-ngusap air mata nyokapnya

“………….” Nyokapnya hanya diam dan tangisannya semakin deras

Setelah semua urusan di rumah sakit beres gua ikut ke rumah orang tuanya yang berada di daerah Jakarta Selatan, beberapa orang kerabat dan saudara Kanza menyambut kedatangan mobil Ambulance yang baru datang di rumah Duka. 

Gua berjalan mengikuti beberapa orang yang membawa Kanza ke ruang tengah, Rumah ini terlihat begitu besar dan rapih. Gua duduk di samping Kanza yang sedang terbaring dengan wajah yang tertutup oleh kain putih, lalu gua ambil Al-Qur’an yang disediakan dan ikut membaca surat Yasin bersama beberapa orang.


Sekitar jam 15:00 dari Masjid beberapa mobil dan motor mengikuti sebuah mobil berwarna hitam yang membawa Kanza menuju TPU yang terletak engga jauh dari sini, Gua duduk di bangku belakang mobil bersama nyokap dan Adiknya yang sedang tidur. Gua hanya diam sedangkan nyokapnya terus mengusap air matanya dengan sapu tangan yang terlihat sudah basah.

“Tinggal Veryn”

“……………” Gua menolehnya seolah bertanya “Maksudnya”

“Dulu Kanza begitu menyayangi Sebastian” nyokapnya mulai bicara

“……………”

“Tapi Sebastian meninggal di usia 3 tahun saat Kanza baru masuk SMP. Kanza jadi pendiem, dia kehilangan keceriaannya sampai akhirnya dia punya adik baru yang Kanza sendiri kasih nama Veryn”

“……………...” Gua hanya diam mendengarkan nyokapnya bercerita

“Maaf ibu jadi banyak cerita” Kata dia sambil mengusap air matanya

“Engga apa-apa bu”

“Ibu sering denger cerita tentang Nak Bobi dari Kanza” 

“………….” Gua kembali diam


“Ibu bersyukur Kanza ketemu orang yang tepat”

“Maksudnya bu ?” 

“Papah itu orangnya keras, dia ngelarang Kanza pacaran. Tapi waktu malem itu Kanza terus terang kalo dia udah lama pacaran sama Nak Bobi, awalnya Papah marah tapi Kanza minta Papah buat dengerin cerita dia dulu”

“Emang Kanza cerita apa aja Bu ?”

“Banyak yang Kanza ceritain, sampe Papah ngizinin buat pacaran”
“…………” 


“Maafin Kanza ya nak Bobi kalo selama ini banyak ngerepotin” 

“I iya bu udah saya maafin”


Sekitar jam 16:00 gua ikut menggotong keranda Jenazah ke sebuah liang lahad yang berada di tengah-tengah TPU, rasanya engga rela saat melihat Kanza harus sendirian di dalam sana dengan Papan yang menghimpit tubuhnya. Satu orang menginjak-nginjak tanah dan 2 orang menurunkan tanah dengan cangkul dari atas. lantunan Do’a dan isak tangis mengiringi kepergiannya. 

Saat ombak menghapus nama yang kita tulis di pasir, kita akan bisa menulisnya lagi. Tapi saat Tuhan memanggil, kita hanya bisa mendo’akannya. 

Terima kasih untuk warna-warna indah yang kamu berikan dalam hari-hariku
Terima kasih kamu telah mengangkatku dari lubang kelamnya masalalu
Terima kasih kamu mengajarkanku memaafkan orang yang selama ini aku benci
Terima kasih karena kamu aku bisa meninggalkan kebiasaan buruk yang selama ini melekat dalam diriku
Terima kasih Tuhan, Engkau telah mempertemukan aku dengan seseorang yang membuat hidupku lebih baik, tapi kenapa… 
Kenapa Engkau harus memanggilnya secepat ini,
Kenapa Engkau hanya mengijinkan kami untuk membuat rencana sedangkan Engau tidak memberikan kesempatan untuk kami mewujudkannya.



“Bengong aja” Kata Kanza yang baru keluar dengan sebuah tas yang dia gendong

“Engga kok, gua suka bunganya boleh gua petik ?” 

“Jangan” 

“Kenapa ? harus bayar ya”

“Bukan, kalo kamu petik ntar layu bunganya”

“Ya gua taro pot lah biar gak layu”

“Kalo kamu gak bisa jagainnya gimana ?”


“Tinggal ke sini terus minta bunganya lagi 

“Kamu gak boleh segampang itu”


“Maksudnya ? ”

“Gini gini, kamu kan suka bunganya kalo bunga itu layu kamu jangan segampang itu ganti sama yang baru” Kanza coba menjelaskan

“Ribet bener Cuma bunga juga  yu ah berangkat” Ajak gua sambil berdiri




Za… maaf… maaf… maaf aku terlalu bodoh, aku baru mengerti sekarang saat aku kehilangan kamu. Saat kita menyukai sesuatu, jangan semudah itu menggantinya. Begitu juga saat kita mencintai seseorang, jangan semudah itu membuka hati untuk yang lain. Dulu aku memang sering berganti-ganti pasangan, karena aku emang engga memiliki perasaan kepada mereka. Sedangkan kamu, aku sangat sangaaat menyayangimu.

Inilah halaman akhir dari kisah yang telah kita tulis selama ini, Walau terasa sangat sulit menerimanya tapi aku harus bisa menerima kenyataan. Sama seperti yang pernah kamu ucapinkan Za ? Aku harus bisa terima kenyataan apapun dan sesakit apapun kenyataan itu.

Seandainya suatu saat nanti Tuhan kembali mempertemukan aku dengan seseorang yang mungkin akan menjadi istri dan seorang ibu untuk anak-anakku kelak, Kanza Azzahra akan tetap selalu ada di hatiku. Aku berharap semua kenangan tentang kita engga akan pernah terhapus oleh usia dan waktu.


Bersambung..

Sumber

0 komentar:

Post a Comment