Kalian masih ingat dengan Ijem si Janda Semok yang jualan bakso di kantin. Sekarang dia sudah engga lagi berstatus Janda karena dia sudah menikah tahun lalu dengan Pak Budi, sekitar jam 10:00 WIB gua dan Kanza sedang dalam perjalanan ke rumah Pak Budi untuk melihat anaknya yang baru berumur sekitar satu minggu, setelah sempat kesasar digang-gang sempit akhirnya kita sampai disebuah rumah yang terletak dipemukiman padat. Kami turun dari motor dengan membawa kado yang berisi keperluan Bayi,
TOK… TOK…. Assalamu’alaikum Gua ketuk sebuah pintu berwarna hitam.
“Waalaikum Salam” Jawab seseorang dari dalam rumah CKREK pintu dibuka,
“Wah ada murid kesayangan bapak nih, ayo masuk ke dalem” Kata Pak mengajak kami masuk
Gua dan Kanza melepas sepatu dan masuk ke dalam rumah yang berukuran engga terlalu besar tapi dengan perabotan yang lengkap, Ijem yang sedang merebahkan badannya di samping Bayi terlihat senang saat kami datang. Pak budi pergi ke dapur menyiapkan minuman, gua dan Kanza duduk disamping Bayi yang sedang tertidur lelap.
Kanza : “Lucu banget dede nya” Kata Kanza sambil telunjuknya mengelus-ngelus pipi Bayi
Gua : “anaknya cewe, gua takut sama kaya emaknya”
Ijem : “Biarin Mas Bob biar cantik kaya Mamahnya” Kata Ijem
Gua : ““Ini bibirnya kok merah Jem ?”
Ijem : “Itu dikasih cabe tadi mas bob”
Gua :“Owh gua kira lo kasih lipstick”
Pak Budi : “Bobi ini ngawur aja” Kata Pak Budi yang baru datang sambil membawa dua gelas teh manis dan meletakannya di lantai dekat kami
Ijem : “Kapan kalian nyusul ?”
Gua dan Kanza saling bertatapan lalu tersenyum “Lulus sekolah” kami menjawab serentak
“Kompak bener HAHAHA” Kata Budi dikuti kami yang ikut tertawa
Baca Juga : Dia..Dia..Dia..Sempurna...
kami ngobrol-ngobrol sambil becanda bersama, walau kami seorang murid, guru, dan penjual bakso tapi saat sedang ngobrol semua terlihat sama engga memandang profesi kami. Sekitar jam 13:00 kami pamit pulang.
Sepanjang jalan Kanza terus membicarakan apa yang akan kita lakukan nantinya setelah lulus sekolah, Gua sudah buka usaha untuk kuliah dan nikah sedangkan Kanza dia sudah mempersiapkan diri menjadi Ibu Rumah Tangga. Walau mempunyai Pembantu di rumahnya Kanza engga pernah manja, dia sering ikut masak dan bersih-bersih rumah karena dia menganggap Bi Romlah sudah seperti keluarga dia sendiri.
Sekitar jam 13:45 kami sampai di rumah gua, karena ini hari minggu Bokap dan Nyokap ada di rumah. Setelah gua kenalkan dengan orang tua beberapa minggu lalu Kanza jadi sering mampir ke rumah, dia udah seperti bagian dari keluarga kami sedangkan gua ? gua engga pernah sekali pun bertemu dengan kedua orang tua Kanza. Bukan karena Kanza yang melarang, dia sudah memperbolehkan gua untuk bertemu tapi gua yang menunggu waktu yang tepat dimana gua sudah lulus sekolah dan memiliki penghasilan cukup untuk meyakinkan mereka bahwa gua siap untuk menikahi Kanza.
Kanza berjalan ke dapur membantu nyokap memasak, sedangkan gua ke belakang rumah untuk mengambil buah-buah mangga yang sudah matang. Setelah makan siang, gua dan Kanza duduk-duduk dibangku kayu yang berada dibawah pohon mangga sambil mengupas mangga yang tadi gua petik.
Kanza : “Seandainya kita punya anak mau kamu kasih nama apa ?
Gua : “Hmmmmm MARKONAH aja”
Kanza : “Ihh gak ada yang lebih bagus apa namanya ?”
Gua : “Itu kalo cewe, kalo cowo namanya SAUD atau MIANG atau…”
Kanza : “BOBI” kata Kanza melanjutkan
Gua : “Itu kan nama gua Za
Kanza : “Tapi nama asli kamu kan Harrys”
Gua : “Heuu jangan dah pokonya jangan”
Kanza : “Terus kasih nama apa dong ?”
Gua : “Udah entar aja nama mah, makan dulu mangganya” Kata gua setelah selesai mengupas mangga
Hari mulai sore, gua mengantar Kanza pulang sampai depan Gerbang sepeti biasa dan gua langsung pulang engga mampir dulu karena udah magrib. Kami memang masih duduk dibangku sekolah, tapi kami punya banyak harapan dan kami telah merencanakan semua yang akan kita lalui setelah kelulusan. Kami sadar semua telah ditentukan oleh yang Maha Kuasa, tapi engga ada salahnya kami berencana dan biarkan Tuhan yang menentukan hasilnya.
Bersambung..

0 komentar:
Post a Comment